IKATAN HIDROGEN DAN IKATAN VAN DER WAALS
Gaya antarmolekul adalah gaya elektromagnetik yang terjadi antara molekul atau antara bagian yang terpisah jauh dari suatu makromolekul. Gaya-gaya
ini dapat berupa kohesi antara molekul serupa, seperti contohnya pada
tegangan permukaan, atau adhesi antara molekul tak serupa, contohnya
pada kapilaritas. Gaya-gaya ini, dimulai dari yang paling kuat, terdiri
dari: interaksi ionik, ikatan hidrogen, interaksi dwikutub (dipole),
dan gaya Van der Waals.
a. Ikatan Hidrogen
Dalam
kimia,
ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antar
molekul
yang terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang
berlawanan. Walaupun lebih kuat dari kebanyakan gaya antarmolekul,
ikatan hidrogen jauh lebih lemah dari
ikatan kovalen dan
ikatan ion. Dalam makromolekul seperti
protein dan
asam nukleat,
ikatan ini dapat terjadi antara dua bagian dari molekul yang sama. dan
berperan sebagai penentu bentuk molekul keseluruhan yang penting.
Ikatan hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, O,
atau F yang mempunyai pasangan elektron bebas (lone pair electron).
Hidrogen dari molekul lain akan berinteraksi dengan pasangan elektron
bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan
bervariasi mulai dari yang lemah (1-2 kJ mol
-1) hingga tinggi (>155 kJ mol
-1).
Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan
elektronegativitas antara atom-atom dalam molekul tersebut. Semakin
besar perbedaannya, semakin besar ikatan hidrogen yang terbentuk.
Ikatan hidrogen mempengaruhi titik didih suatu senyawa. Semakin
besar ikatan hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya. Namun, khusus
pada air (H
2O), terjadi dua ikatan hidrogen pada tiap
molekulnya. Akibatnya jumlah total ikatan hidrogennya lebih besar
daripada asam florida (HF) yang seharusnya memiliki ikatan hidrogen
terbesar (karena paling tinggi perbedaan elektronegativitasnya)
sehingga titik didih air lebih tinggi daripada asam florida.
b. Ikatan Van der Waals
Gaya van der Waals dalam ilmu
kimia merujuk pada salah satu jenis gaya antara
molekul.
Istilah ini pada awalnya merujuk pada semua jenis gaya antar molekul,
dan hingga saat ini masih kadang digunakan dalam pengertian tersebut,
tetapi saat ini lebih umum merujuk pada gaya-gaya yang timbul dari
polarisasi molekul menjadi
dipol.
Hal ini mencakup gaya yang timbul dari dipol tetap (
gaya Keesom), dipol rotasi atau bebas (
gaya Debye) serta pergeseran distribusi awan
elektron (
gaya London).
Nama gaya ini diambil dari nama kimiawan Belanda
Johannes van der Waals, yang pertama kali mencatat jenis gaya ini.
Potensial Lennard-Jones sering digunakan sebagai model hampiran untuk gaya van der Waals sebagai fungsi dari waktu.
Interaksi van der Waals teramati pada gas mulia,
yang amat stabil dan cenderung tak berinteraksi. Hal ini menjelaskan
sulitnya gas mulia untuk mengembun. Tetapi, makin besar ukuran atom gas
mulia (makin banyak elektronnya) makin mudah gas tersebut berubah
menjadi cairan.
| Silakan di “Klik” langsung tulisan dibawah ini, untuk Link,…ke wikipedia… |
|
|
| “Kuat” |
|
|
|
| “Lemah” |
|
|
|
| lainnya |
|
Nama gaya ini diambil dari nama kimiawan Belanda JOHANNES VAN DER WAALS, yang pertama kali mencatat jenis gaya ini. Potensial LENNARD-JONES sering digunakan sebagai model hampiran untuk gaya van der Waals sebagai fungsi dari waktu.
Interaksi van der Waals teramati pada
gas mulia, yang amat stabil dan cenderung tak berinteraksi. Hal ini
menjelaskan sulitnya gas mulia untuk mengembun. Tetapi, makin besar
ukuran atom gas mulia (makin banyak elektronnya) makin mudah gas
tersebut berubah menjadi cairan.
Gaya van der Waals dalam ilmu
kimia merujuk pada jenis tertentu gaya antar
molekul.
Istilah ini pada awalnya merujuk pada semua jenis gaya antar molekul,
dan hingga saat ini masih kadang digunakan dalam pengertian tersebut,
tetapi saat ini lebih umum merujuk pada gaya-gaya yang timbul dari
polarisasi molekul menjadi
dipol.
Hal ini mencakup gaya yang timbul dari dipol tetap (
gaya Keesom), dipol rotasi atau bebas (
gaya Debye) serta pergeseran distribusi awan
elektron (
gaya London).
Gaya van der waals : gaya tarik di antara atom atau molekul, gaya
ini jauh lebih lemah dibandingkan gaya yang timbul karena ikatan
valensi dan besarnya ialah 10
-7 kali jarak antara atom-atom
atau molekul-molekul. Gaya ini menyebabkan sifat tak ideal pada gas dan
menimbulkan energi kisi pada kristal molekular. Ada tiga hal yang
menyebabkan gaya ini :
- Interaksi dwikutub-dwikutub, yaitu tarikan elektrostatistik di antara dua molekul dengan moment dwikutub permanen.
- Interaksi dwikutub imbasan, artinya dwikutub timbul karena adanya polarisasi oleh molekul tetangga.
- Gaya dispersi yang timbul karena dwikutub kecil dan bersifat sekejap dalam atom.
Asal mula gaya dispersi van der Waals
Dipol-dipol yang berubah-ubah sementara
Dayatarik yang ada di alam bersifat elektrik. Pada molekul yang
simetris seperti hidrogen, bagaimanapun, tidak terlihat mengalami
distorsi secara elektrik untuk menghasilkan bagian positif atau bagian
negatif. Akan tetapi hanya dalam bentuk rata-rata.
Diagram dalam bentuk lonjong (the lozenge-shaped) menggambarkan molekul kecil yang simetris – H2, boleh jadi, atau Br
2. Tanda arsir menunjukkan tidak adanya distorsi secara elektrik.
Akan tetapi elektron terus bergerak, serta merta dan pada suatu
waktu elektron tersebut mungkin akan ditemukan di bagian ujung molekul,
membentuk ujung -. Pada ujung yang lain sementara akan kekurangan
elaktron dan menjadi +.
Catatan: (dibaca “delta”) berarti “agak” (slightly) – karena itu + berarti “agak positif”.
Kondisi yang terakhir elektron dapat bergerak ke ujung yang lain, membalikkan polaritas molekul.
“Selubung lingkarang” yang konstan dari elektron pada molekul
menyebabkan fluktuasi dipol yang cepat pada molekul yang paling
simetris. Hal ini terjadi pada molekul monoatomik – molekul gas mulia,
seperti helium, yang terdiri dari atom tunggal.
Jika kedua elektron helium berada pada salah satu sisi secara
bersamaan, inti tidak terlindungi oleh elektron sebagaimana mestinya
untuk saat itu.
Dipol-dipol sementara yang bagaimana yang membemberikan kenaikan dayaarik antarmolekul
Bayangkan sebuah molekul yang memiliki polaritas sementara yang
didekati oleh salah satu yang terjadi menjadi termasuk non-polar hanya
saat itu saja. (kejadian yang tidak disukai, tetapi hal ini menjadikan
diagram lebih mudah digambarkan! Pada kenyataannya, satu molekul lwbih
menyukai memiliki polaritas yang lebih besar dibandingkan yang lain
pada saat seperti itu – dan karena itu akan menjadi yang paling
dominan).
Seperti molekul yang ditemukan pada bagian kanan, elektronnya akan
cenderung untuk ditarik oleh ujung yang agak positif pada bagian
sebelah kiri.
Hal ini menghasilkan
dipol terinduksi pada penerimaan molekul, yang berorientasi pada satu cara yang mana ujung + ditarik ke arah ujung – yang lain.
Pada kondisi yang terakhir elektron pada bagian kiri molekul dapat
bergerak ke ujung yg lain. Pada saat terjadi hal ini, meraka akan
menolak elektron pada bagian kanan yang satunya.
Polaritas kedua molekul adalah berkebalikan, tetapi kamu masih
memiliki yang + tertarik -. Selama molekul saling menutup satu sama
lain polaritas akan terus berfluktuasi pada kondisi yang selaras karena
itu dayatarik akan selalu terpelihara.
Tidak ada alasan kenapa hal ini dibatasi pada dua molekul. Selama
molekul saling mendekat pergerakan elektron yang selaras dapat terjadi
pada molekul yang berjumlah sangat banyak.
Diagram ini menunjukkan bagaimana cacat secara keseluruhan dari
molekul yang berikatan secara bersamaan pada suatu padatan dengan
menggunakan gaya van der Waals. Pada kondisi yang terakhir, tentunya,
kamu akan menggambarkan susunan yang sedikit berbeda selama meraka
terus berubah – tetapi tetap selaras.
pakah dayatarik antarmolekul itu?
Ikatan antarmolekul versus ikatan intramolekul
Dayatarik antarmolekul adalah dayatarik
yang terjadi antara suatu molekul dan molekul tetangganya. Gaya tarik
yang mengikat molekul secara tersendiri (sebagai contoh, ikatan
kovalen) dikenal dengan
dayatarik intramolekul.
Dua kata tersebut membingungkan yang mana untuk lebih amannya membuang
salah satu diantaranya dan tidak digunakan lagi. Istilah “intramolekul”
tidak akan digunakan lagi pada bagian ini.
Semua molekul mengalami dayatarik antarmolekul, meskipun pada
beberapa kasus dayatarik yang terjadi sangatlah lemah. Pada gas seperti
hidrogen, H
2. Jika kamu memperlambat gerak molekul melalui
pendinginan, dayatarik cukup besar bagi molekul untuk tetap bersama
sampai pada akhirnya membentuk cairan dan kemudian padatan.
Pada kasus hidrogen dayatarik sangat lemah yang mana molekul
membutuhkan pendinginan sampai 21 K (-252°C) sebelum dayatarik cukup
kuat untuk mengkondensasi hidrogen menjadi cairan. Dayatarik
antarmolekul yang dimiliki oleh helium lebih lemah – molekul tidak
ingin tetap bersama untuk membentuk cairan sampai temperatur menurun
sampai 4 K (-269°C).
Gaya van der Waals: gaya dispersion
Gaya dispersi (salah satu tipe dari gaya van der Waals adalah yang
kita setujui pada halaman ini) yang juga dikenal dengan “gaya London”
(dinamakan demikian setelah Fritz London mengusulkan untuk pertama
kalinya).
Asal mula gaya dispersi van der Waals
Dipol-dipol yang berubah-ubah sementara
Dayatarik yang ada di alam bersifat elektrik. Pada molekul yang
simetris seperti hidrogen, bagaimanapun, tidak terlihat mengalami
distorsi secara elektrik untuk menghasilkan bagian positif atau bagian
negatif. Akan tetapi hanya dalam bentuk rata-rata.

Diagram dalam bentuk lonjong (the lozenge-shaped) menggambarkan molekul kecil yang simetris – H2, boleh jadi, atau Br
2. Tanda arsir menunjukkan tidak adanya distorsi secara elektrik.
Akan tetapi elektron terus bergerak, serta merta dan pada suatu
waktu elektron tersebut mungkin akan ditemukan di bagian ujung molekul,
membentuk ujung

-. Pada ujung yang lain sementara akan kekurangan elaktron dan menjadi

+.
Catatan:
(dibaca “delta”) berarti “agak” (slightly) – karena itu
+ berarti “agak positif”.

Kondisi yang terakhir elektron dapat bergerak ke ujung yang lain, membalikkan polaritas molekul.

“Selubung lingkarang” yang konstan dari elektron pada molekul
menyebabkan fluktuasi dipol yang cepat pada molekul yang paling
simetris. Hal ini terjadi pada molekul monoatomik – molekul gas mulia,
seperti helium, yang terdiri dari atom tunggal.
Jika kedua elektron helium berada pada salah satu sisi secara
bersamaan, inti tidak terlindungi oleh elektron sebagaimana mestinya
untuk saat itu.
Dipol-dipol sementara yang bagaimana yang membemberikan kenaikan dayaarik antarmolekul
Bayangkan sebuah molekul yang memiliki polaritas sementara yang
didekati oleh salah satu yang terjadi menjadi termasuk non-polar hanya
saat itu saja. (kejadian yang tidak disukai, tetapi hal ini menjadikan
diagram lebih mudah digambarkan! Pada kenyataannya, satu molekul lwbih
menyukai memiliki polaritas yang lebih besar dibandingkan yang lain
pada saat seperti itu – dan karena itu akan menjadi yang paling
dominan).

Seperti molekul yang ditemukan pada bagian kanan, elektronnya akan
cenderung untuk ditarik oleh ujung yang agak positif pada bagian
sebelah kiri.
Hal ini menghasilkan
dipol terinduksi pada penerimaan molekul, yang berorientasi pada satu cara yang mana ujung + ditarik ke arah ujung – yang lain.

Pada kondisi yang terakhir elektron pada bagian kiri molekul dapat
bergerak ke ujung yg lain. Pada saat terjadi hal ini, meraka akan
menolak elektron pada bagian kanan yang satunya.

Polaritas kedua molekul adalah berkebalikan, tetapi kamu masih memiliki yang

+ tertarik

-.
Selama molekul saling menutup satu sama lain polaritas akan terus
berfluktuasi pada kondisi yang selaras karena itu dayatarik akan selalu
terpelihara.
Tidak ada alasan kenapa hal ini dibatasi pada dua molekul. Selama
molekul saling mendekat pergerakan elektron yang selaras dapat terjadi
pada molekul yang berjumlah sangat banyak.

Diagram ini menunjukkan bagaimana cacat secara keseluruhan dari
molekul yang berikatan secara bersamaan pada suatu padatan dengan
menggunakan gaya van der Waals. Pada kondisi yang terakhir, tentunya,
kamu akan menggambarkan susunan yang sedikit berbeda selama meraka
terus berubah – tetapi tetap selaras.
Kekuatan gaya dispersi
Gaya dispersi antara molekul-molekul adalah lebih lemah dibandingkan
dengan ikatan kovalen diantara molekul. Hal ini tidak memungkinkan
untuk memberikan harga yang eksak, karena ukuran dayatarik bervariasi
sekali dengan ukuran dan bentuk molekul.
Seberapa jauh ukuran molekul memperngaruhi kekuatan ikatan daya dispersi
Titik didih gas mulia adalah
| helium |
 |
-269°C |
| neon |
 |
-246°C |
| argon |
 |
-186°C |
| kripton |
 |
-152°C |
| xenon |
 |
-108°C |
| radon |
 |
-62°C |
Semua unsur tersebut berada pada molekul monoatomik.
Alasan yang mendasari bahwa titik didih meningkat sejalan dengan
menurunnya posisi unsur pada golongan adalah kenaikan jumlah elektron,
dan juga tentunya jari-jari atom. Lebih banyak elektron yang kamu
miliki, dan lebih menjauh sejauh mungkin, yang paling besar memungkikan
dipol sementara terbesar dan karena itu gaya dispersi paling besar.

Karena dipol sementara lebih besar, molekul xenon lebih melekat
(stickier) dibandingkan dengan molekul neon. Molekul neon akan berpisah
satu sama lain pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan molekul
xenon – karena itu neon memiliki titik didih yang lebih rendah.
Hal ini adalah suatu alasan (semua yang lainnya sebanding) molekul
yang lebih besar memiliki lebih banyak elektron dan lebih menjauh dari
dipol sementara yang dapat dihasilkan – dan karena itu molekul yang
lebih besar lebih melekat.
Seberapa jauh bentuk molekul mempengaruhi kekuatan gaya dispersi
Ukuran molekul juga begitu. Molekul yang panjang kurus dapat
menghasilkan dipol sementara yang lebih besar berdasarkan pada
pergerakan elektronnya dibandingkan molekul pendek gemuk yang
mengandung jumlah elektron yang sama.
Molekul yang panjang kurus juga dapat lebih dekat satu sama lain –
dayatarik meraka lebih efektif jika molekul-molekulnya benar-benar
tertutup.
Sebagai contoh, molekul hidrokarbon butana dan 2-metilpropan keduanya memiliki rumus molekul C
4H
10,
tetapi atom-atom disusun berbeda. Pada butana atom karbon disusun pada
rantai tunggal, tetapi 2-metilpropan memiliki rantai yang lebih pendek
dengan sebuah cabang.

Butana memiliki titik didih yang lebih tinggi karena gaya
dispersinya lebih besar. Molekul yang lebih panjang (dan juga
menghasilkan dipol sementara yang lebih besar) dapat lebih berdekatan
dibandingkan molekul yang lebih pendek dan lebih gemuk 2-metilpropan.
Gaya van der Waals: interaksi dipol-dipol
Molekul seperti HCl memiliki dipol permanen karena klor lebih
elektronegatif dibandingkan hidrogen. Kondisi permanen ini, pada saat
pembentukan dipol akan menyebabkan molekul saling tarik menarik satu
sama lain lebih dari yang meraka bisa lakukan jika hanya menyandarkan
pada gaya dispersi saja.
Hal ini sangat penting untuk merealisasikan bahwa semua molekul
mengalami gaya dispersi. Interaksi dipol-dipol bukan suatu alternatif
gaya dispersi – penjumlahannya. Molekul yang memiliki dipol permanen
akan memiliki titik didih yang lebih tinggi dibandingkan dengan molekul
yang hanya memiliki dipol yang berubah-ubah secara sementara.
Agak mengherankan dayatarik dipol-dipol agak sedikit dibandingkan
dengan gaya dispersi, dan pengaruhnya hanya dapat dilihat jika kamu
membandingkan dua atom dengan jumlah elektron yang sama dan ukuran yang
sama pula. Sebagai contoh, titik didih etana, CH
3CH
3, dan fluorometana, CH
3F adalah:

Kenapa dipilih dua molekul tersebut untuk dibandingkan? Keduanya
memiliki jumlah elektron yang identik, dan jika kamu membuat model kamu
akan menemukan bahwa ukurannya hampir sama – seperti yang kamu lihar
pada diagram. Hal ini berarti bahwa gaya dispersi kedua molekul adalah
sama.
Titik didih fluorometana yang lebih tinggi berdasarkan pada dipol
permanen yang besar yang terjadi pada molekul karena elektronegatifitas
fluor yang tinggi. Akan tetapi, walaupun memberikan polaritas permanen
yang besar pada molekul, titik didih hanya meningkat kira-kira 10°.
°.

Berikut ini contoh yang lain yang menunjukkan dominannya gaya dispersi. Triklorometan, CHCl
3,
merupakan molekul dengan gaya dispersi yang tinggi karena
elektronegatifitas tiga klor. Hal itu menyebabkan dayatarik dipol-dipol
lebih kuat antara satu molekul dengan tetangganya.

Dilain pihak, tetraklorometan, CCl
4, adalah non polar. Bagian luar molekul tidak seragam

- in pada semua arah. CCl
4 hanya bergantung pada gaya dispersi
Karena itu manakah yang memiliki titik didih yang lebih tinggi? CCl
4 tentunya, karena CCl
4
molekulnya lebih besar dengan lebih banyak elektron. Kenaikan gaya dispersi lebih dari sekedar menggantikan untuk kehilangan interaksi dipol-dipol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar